Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sosial atau suasana kelas adalah penentu psikologis utama yang mempengaruhi belajar akademis. Suasana – keadaan ruangan – menunjukkan arena belajar yang dipengaruhi emosi. Misalnya, ambil contoh tentang restoran favorit anda. Anda barangkali tidak hanya menikmati kelezatan makanannya, tetapi juga suasananya – tenang atau menggairahkan, hangat atau dingin, tradisional atau kontemporer. Suasana menjadikan acara makan sebagai suatu pengalaman, tidak hanya sekadar makan. Maka dapat diciptakan efek yang serupa dengan lingkungan belajar seperti yang dilakukan oleh restoran seperti lingkungan makan yang mengasyikkan tadi.[1]
Menurut Gordon Dryden bahwa ”belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana yang menyenangkan”.[2]
Joyfull learning merupakan pendekatan belajar mengajar yang menyenangkan. Belajar adalah kegiatan seumur hidup yang dapat dilakukan dengan cara menyenangkan dan berhasil. Untuk mendukung proses Joyfull Learning maka perlu menyiapkan lingkungan sehingga semua siswa merasa penting, aman, dan nyaman. Ini dimulai dengan lingkungan fisik yang kondusif yang diperindah dengan tanaman, seni dan musik. Ruangan harus terasa pas untuk kegiatan belajar seoptimal mungkin.[3]
Prinsip pembelajaran yang menyenangkan (Joyfull Learning), adalah apabila siswa senang dan belajar tahu untuk apa dia belajar.
Jadi faktor untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (Joyfull Learning) adalah penciptaan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan dan merangsang anak untuk belajar. Suasana kelas yang diciptakan penuh kegembiraan akan membawa kegembiraan pula dalam belajar.
B. Unsur-unsur Joyfull Learning
Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai dampak yang besar tidak hanya prestasi anak tetapi juga pada sikap. Bahkan guru dapat mempengaruhi anak lebih kuat daripada orang tua karena guru punya lebih banyak kesempatan untuk merangsang atau menghambat kemampuan berfikir dan bersikap anak daripada orang tua.
Harus diakui bahwa guru tidak dapat dengan mudah dapat mengajar yang menyenangkan tetapi ia dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang lebih menyenangkan sehingga mampu memupuk kemampuan berfikir dan kreativitas anak.
Adapun unsur-unsur yang harus ada agar proses pembelajaran itu menjadi menyenangkan antara lain sebagai berikut :
1. Paradigma Belajar Mengajar
Hal mendasar dalam pembelajaran agar mampu menumbuhkan suasana yang menyenangkan adalah merubah paradigma mengajar. Selama ini pembelajaran di sekolah masih berorientasi pada “Teaching Centre” bukan “Student Centre.
Paradigma yang harus dikembangkan untuk mendukung pembelajaran yang menyenangkan adalah :
a. Belajar itu sangat penting dan menyenangkan.
b. Anak patut dihargai dan disayangi sebagai pribadi yang unik.
c. Anak hendaknya menjadi pelajar yang aktif. Mereka perlu didorong untuk membawa pengalaman, gagasan, minat dan bahan mereka di kelas. Mereka dimungkinkan untuk membicarakan bersama dengan guru mengenai tujuan belajar setiap hari, dan perlu diberi otonomi dalam menentukan bagaimana mencapainya.
d. Anak perlu merasa nyaman dan memiliki kebanggaan di kelas. Ruang kelas adalah milik mereka juga dan mereka bertanggung jawab untuk mengaturnya.
e. Guru merupakan narasumber, bukan polisi, atau dewa. Anak harus menghormati guru, tetapi merasa aman dan nyaman dengan guru.
f. Anak perlu merasa bebas untuk mendiskusikan masalah secara terbuka baik dengan guru maupun dengan teman sebaya.
g. Kerjasama selalu lebih baik dari pada kompetisi.
h. Pengalaman belajar hendaknya dekat dengan pengalaman dari dunia nyata. Mereka perlu dilibatkan dalam merancang kegiatan belajar dan boleh membawa bahan-bahan dari rumah.
2. Karakteristik Guru
Semua anak di sekolah memerlukan guru yang baik. Guru menentukan tujuan dan sasaran belajar, membantu pembentukan nilai-nilai pada anak ; memilihkan pengalaman belajar ; menjadi model prilaku (tauladan) bagi siswa. Namun, bagaimanapun, tidak semua guru dapat mengajar secara menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan mensyaratkan guru yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Bersikap demokratis.
b. Ramah dan memberi perhatian terhadap masalah anak secara perorangan.
c. Bersifat sabar.
d. Mempunyai minat luas sebagai guru.
e. Berpenampilan menyenangkan, adil dan tidak memihak.
f. Berprilaku konsisten dan menjadi tauladan.
g. Bersikap luwes (fleksibel).
h. Menggunakan penghargaan dan pujian.
i. Mempunyai kemahiran yang luar biasa dalam mengajarkan subyek tertentu.
j. Mempunyai rasa humor.
3. Rancangan Ruang Kelas
Perbedaan yang mencolok dalam model rancangan kelas sekitar tiga puluh tahun yang lalu adalah antara kelas yang terbuka dan yang tradisionil. Pada umumnya ; kelas yang terbuka mempunyai struktur yang tidak kaku, dan lebih banyak perhatian individual. Gerakan pengaturan model kelas terbuka yang diprakarsai seputar tahun 1960 ini dinyatakan sebagai cara yang baik untuk memupuk belajar yang menyenangkan, bermakna dan mendorong kreativitas anak.
Di samping itu, ruang kelas hendaknya merangsang secara visual, dengan cara diisi berbagai hasil karya siswa, misalnya : lukisan, foto, karangan, patung, dan karya-karya lain. Siswa boleh memilih karyanya yang akan dipajang, dan boleh diganti sesuai dengan keinginannya.
Anak-anak dapat dilibatkan mengusahakan bahan-bahan untuk kelasnya. Mereka dapat membawa obyek-obyek dari rumah, atau berbagai materi. Jadikan kelas sebagai pusat sains, artinya di dalam kelas mengandung berbagai materi yang memungkinkan melakukan banyak kegiatan dan eksperimen, sehingga kelas menjadi pusat aktivitas di mana mereka bermain, bereksperimen dengan bermacam-macam bahan dan kondisi ini akan sangat merangsang minat belajar dan kreativitas anak.
Dalam satu kelas biasanya kemampuan anak berbeda-beda. Bila diberikan materi yang sama dan pada saat yang sama pula, maka akan terdapat daya serap yang berbeda. Duduk dalam satu kelas bersama anak-anak dengan kemampuan yang berbeda-beda ada untung-ruginya. Keuntungannya ialah bahwa anak belajar berkomunikasi dengan macam-macam anak. Anak yang cerdas dapat membantu anak yang kurang kemampuannya (tutor teman sebaya). Kerugiannya adalah sering kali anak yang sangat cerdas merasa bosan di dalam kelas dengan anak-anak yang berkemampuan rata-rata, karena daya serap dan kecepatan belajarnya lebih tinggi. Karena bosan mungkin ia akan kurang memperhatikan pelajaran, menjadi acuh tak acuh, atau akan mengganggu anak-anak lain. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebaiknya ada waktu-waktu khusus di anak-anak yang cerdas atau kreatif dapat bekerja dalam kelompok khusus, melakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan bakat dan minatnya. Jika dalam suatu sekolah tidak ada kemungkinan untuk pengelompokan khusus pada waktu-waktu tertentu (misalnya satu atau dua kali seminggu), maka sebaliknya di dalam kelas tersedia bahan-bahan untuk siswa-siswa yang sangat cerdas, sehingga jika mereka selesai dengan pekerjaan kelas, mereka diperbolehkan melakukan hal lain sesuai dengan minat mereka. Misalnya di sudut kelas ada perpustakaan kecil. Lebih ideal lagi jika setiap sekolah mempunyai ruang sumber belajar (resource-room) khusus bagi anak-anak yang cerdas dan kreatif di mana mereka pada waktu-waktu tertentu berkumpul.
4. Strategi Mengajar
Dalam pembelajaran hendaknya menekankan pada cara belajar yang kreatif dan tidak semata-mata menekankan pada materi pelajaran yang diberikan oleh guru dan anak harus menghafalnya. Menerima secara pasif bahan yang ditentukan oleh guru dan kemudian memproduksinya tidak menunjukkan cara belajar yang menyenangkan. Tentu saja ada bahan-bahan tertentu yang harus dikuasai oleh semua anak; tetapi di samping itu hendaknya anak kadang-kadang juga diberi kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang ingin dipelajari.
Hendaknya anak juga dibiasakan mencari sendiri apa yang ingin diketahuinya, misalnya di dalam kamus atau ensiklopedi. Anak belajar dengan mengajukan pertanyaan (jadi tidak hanya guru yang mengajukan pertanyaan), berdiskusi, menemukan sendiri, atau melakukan sesuatu berdasarkan bahan pelajaran yang telah diberikan, seperti membandingkan, melakukan eksperimen, dan sebagainya.
Di sekolah, yang ditekankan biasanya menemukan satu jawaban yang benar atau paling tepat terhadap suatu persoalan. Cara memperoleh jawaban itu pun sering sudah ditetapkan oleh guru, dan tidak boleh menyimpang dari satu-satunya cara itu. Ini tidak merangsang anak menjadi aktif, bahkan bisa sebaliknya, anak menjadi kaku, bosan dan sempit berfikir dalam memecahkan masalah.
Guru sebaiknya tidak membekali anak dengan jawaban atau cara yang sudah siap pakai, untuk memecahkan masalah di masa depan. Yang dapat dilakukan guru ialah membekali anak dengan ketrampilan berfikir dan sikap yang memungkinkan menghadapi tantangan hari esok secara kreatif dan inovatif. Mengajar anak bagaimana ia harus belajar penekanan pada proses lebih penting daripada mengajar apa yang harus ia pelajari. Materi pelajaran yang sekarang diberikan belum tentu berguna bagi anak, jika ia dewasa. Anak yang telah belajar bagaimana ia harus belajar akan dapat menemukan apa yang ia butuhkan.
5. Penilaian
Menurut Amabile bahwa penilaian guru terhadap pekerjaan anak mungkin merupakan pembunuh kreativitas anak paling besar. Penilaian menurut pola pendidikan tradisional, guru memberikan tugas dan tes kepada anak yang dikoreksi dan dikembalikan dengan nilai angka dan tanda-tanda pada jawaban yang salah.
Pada waktu-waktu tertentu anak membawa pulang buku raport dengan nilai untuk setiap subyek. Kemudian setahun sekali orang tua datang untuk pertemuan dengan guru guna membicarakan kemajuan anak.
Dalam kelas yang menyenangkan, guru menilai pengetahuan dan kemajuan anak melalui interaksi yang terus menerus dengan anak. Pekerjaan anak dikembalikan dengan banyak catatan dari guru, terutama menampilkan segi-segi yang baik dan yang kurang baik dari pekerjaan anak. Secara berkala guru memberikan cacatan tentang kemajuan anak untuk orang tua. Sebelum menulis laporan untuk orang tua, guru membicarakan secara perorangan dengan anak, dengan tidak hanya memberikan pendapat guru tetapi juga meminta pandangan anak. Catatan tertulis untuk orang tua dan pembicaraan secara lisan hendaknya juga melibatkan pandangan anak.
Sistem ini membuat evaluasi lebih bersifat “memberi informasi” daripada mengawasi. Anak melihat komentar guru tidak sebagai hadiah atau hukuman untuk mengawasinya, tapi sebagai informasi yang berguna bagi belajar dan kinerjanya. Dengan demikian, motivasi instrinsik dan kreativitas siswa tidak menurun tetapi dapat meningkat.
Guru dapat mengikutsertakan anak untuk menilai pekerjaan mereka sendiri. Agar anak tidak kecewa jika pekerjaannya kurang baik, guru hendaknya memperhatikan bagian atau soal mana yang dibuat cukup baik, dan memberi penghargaan, misalnya dengan memberi tanda bintang. Selain itu, guru menunjukkan pengertian bahwa anak mengalami masalah dalam mengerjakan soal-soal tertentu dan mengajaknya mencari cara lain supaya anak dapat memahami kesalahan-kesalahan yang dibuat.
Dalam memberi penilaian, guru hendaknya menghindari kalimat yang bernada negatif, misalnya, “Kamu membuat salah lagi!” lebih baik bila guru mengungkapkannya dengan kalimat “Dapatkah kamu memikirkan cara lain untuk membuat itu?” atau “Mari saya tunjukkan cara lain untuk melakukan itu”. Yang penting adalah anak memahami makna memahami dari membuat kesalahan. Dari kesalahan kita dapat belajar. Seyogyanya anak tidak perlu menyembunyikan kesalahan-kesalahannya atau merasa terganggu karenanya.
Mengawasi atau memonitor sering dilakukan dalam model pendidikan yang tradisional. Dalam model yang menunjang motivasi instrinsik dan kreativitas, anak bertanggung jawab untuk memonitor sendiri pekerjaannya. Guru memberikan kepada mereka tujuan dalam bidang tertentu yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu (misalnya sehari atau seminggu), tetapi anak mempunyai otonomi untuk menentukan bagaimana menyelesaikan tujuan belajar, dan mereka bertanggung jawab untuk mengatur langkah-langkah kemajuan mereka ke arah tujuan.
Anak senang menerima hadiah dan kadang-kadang melakukan segala sesuatu untuk memperolehnya, dan itu masalahnya. Cukup banyak penelitian menunjukkan bahwa jika perhatian anak terpusat untuk mendapat hadiah sebagai alasan untuk melakukan sesuatu, maka motivasi instrinsik dan kreativitas mereka akan menurun. Hadiah untuk pekerjaan yang dilaksanakan dengan baik tidak harus berupa materi (intangible). Yang terbaik justru berupa senyuman atau anggukan, kata penghargaan, kesempatan untuk menampilkan dan mempresentasikan pekerjaan sendiri, dan pekerjaan tambahan. Jika iklim kelas sedemikian rupa hingga belajar menjadi menarik dan menyenangkan, pekerjaan tambahan dapat merupakan hadiah. Hadiah yang diberikan hendaknya berkaitan erat dengan kegiatannya, misalnya mendeklamasikan sajak yang dibuat, atau membacakan di depan kelas karangan dibuat dengan baik, sehingga meningkatkan motivasi instrinsik dan kreativitas.
Guru harus memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih, misalnya boleh memilih topik karangannya sendiri, atau memilih tema menggambar sendiri. Kreativitas tidak akan berkembang jika anak hanya dapat melakukan sesuatu dengan satu cara. Anak sebaiknya diberi kegiatan yang bersifat bebas dalam batas struktur tertentu, misalnya anak diberi tugas mengarang tentang “Kegiatan di waktu luang” namun judul karangan boleh dipilih sendiri. Anak memerlukan arah tujuan, batasan dan garis besar dalam memerlukan suatu tugas. Tetapi, dalam batas-batas ini, hendaknya mereka dimungkinkan untuk membuat pilihan.[5]
Jadi menurut penulis bahwa dalam pendidikan harus ada penilaian. Namun hendaknya penilaian itu bertujuan meningkatkan cara belajar siswa. Guru dalam melaksanakan penilaian harus memperhatikan cara-cara penilaian yang baik dan melibatkan siswa untuk ikut serta memberikan penilaian terhadap apa yang telah dikerjakan siswa.
C. Cara Menciptakan Joyfull Learning
1. Tehnik-tehnik Mengajar Yang Menyenangkan.
Untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan, guru juga harus berupaya bagaimana agar kegiatan pembelajaran itu menjadi menyenangkan. Karena bagaimanapun, tidak semua guru dapat mengajar secara menyenangkan. Adapun upaya yang harus dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar adalah :
a. Mengawali kegiatan dengan hal-hal yang menyenangkan.
Ciptakan suasana riang gembira dalam mengawali segala bentuk kegiatan di dalam dan di luar kelas. Sikap riang gembira dari guru akan berpengaruh besar kepada anak didiknya.
Seorang guru yang kreatif tentu dapat menciptakan “kondisi” (ice breaking) yang tepat dalam mengajak siswa memulai mengerjakan tugas-tugas atau mengkondisikan kembali suasana belajar yang mulai membosankan dan melelahkan menjadi kembali bersemangat.
Berusaha memahami perasaan anak juga tidak kalah pentingnya. Perasaan memberi kekuatan kepada manusia untuk bertindak sesuai dengan apa yang ia percaya. Dalam kehidupan sehari-hari anak membutuhkan guru yang dapat memahami perasaannya. Akan tetapi, yang sering terjadi dan sangat memilukan hati anak adalah seringnya perasaan anak diabaikan.[6]
b. Menjauhi berbagai gaya berkomunikasi yang kurang patut.
Gaya komunikasi guru kepada murid yang kurang patut, akan sangat berdampak negatif terhadap murid. Adapun gaya komunikasi yang kurang patut dan harus dihindari adalah :
1.) Gaya memerintah.
Gaya ini paling sering terjadi karena pendidik merasa dirinya memiliki kekuasaan tertinggi di dalam kelas. Anak harus patuh dan taat kepada guru. Siapa yang melanggar akan ditundukkan melalui perintah-perintah dan ancaman.
Contoh :
“Bu guru tidak suka kamu menangis, ayo diam … !”
“Jika kamu sekali lagi lupa membawa PR, awas … !”
2.) Gaya memojokkan/menyalahkan
Gaya ini sering terjadi ketika kesabaran guru sebagai pendidik menjadi tawar, tidak mau ikut mengambil resiko dan tanggung jawab, selalu menuding anak sebagai sumber kesalahan.
Contoh :
“Nah, betulkan, kalau pak guru menerangkan kamu tidak serius, ulanganmu hasilnya jelek semua… !”
“Kamu sih, malas belajar sehingga tak dapat nilai bagus”.
3.) Gaya meremehkan.
Gaya ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman pendidik akan karakteristik dan keunikan masing-masing anak. Guru cenderung meremehkan anak yang agak lamban belajar atau menganggapnya sebagai anak bawang, begitu juga terhadap anak yang usil dan nakal.
Contoh :
“Masa, pelajaran mudah begini kamu tidak dapat mengerjakannya !”
“Ah…, kamu duduk di sana saja, biar tidak ribut dan mengganggu !”
4.) Gaya membandingkan.
Gaya ini sering terjadi karena pendidik terlalu memiliki harapan yang tinggi dan berlebih-lebihan, seakan-akan kemampuan semua anak sama.
Contoh :
“Apa kalian nggak malu sama kelas lain yang dapat piala ?”
“Apa kamu nggak merasa malu sama kakakmu yang selalu juara kelas ?”
5.) Gaya mencap/menstempel
Gaya ini termasuk gaya melanggar hak asasi anak. Biasanya gaya ini timbul karena adanya sepenggal kelakuan yang melekat pada penilaian guru terhadap anak sebelumnya.
Contoh :
“Kamu memang si anak nakal, bandel, tak tahu aturan. Persis seperti kelakuan kakakmu dulu !”
“Dasar malas, jelas saja bodoh !”
6.) Gaya mengancam
Gaya ini memperlihatkan ketakmatangan dan ketaksiapan pendidik dalam menghadapi berbagai prilaku anak. Pendidik sering mengancam karena tak mau terlibat berlama-lama dengan kondisi yang tak diharapkan.
Contoh :
“Hei diam, ribut saja … !”
“Ngapain kamu cengar-cengir Badu ? Ayo keluar, mengganggu kosentrasi saya saja.”[7]
Pada intinya agar pembelajaran menjadi menyenangkan guru harus menggunakan gaya komunikasi yang baik, ramah, sabar, mempunyai rasa humor, kasih sayang, dan lemah lembut.
c. Menguasai keterampilan dasar mengajar.
Karena setiap siswa itu memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, maka bagi pengajar harus mengimbanginya dengan berbagai macam ketrampilan mengajar. Adapun macam-macam ketrampilan akan penulis bahas satu persatu sebagai berikut :
1.) Ketrampilan bertanya
Dalam proses belajar mengajar, bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan tehnik pelontaran yang tepat pula akan memberikan dampak positif terhadap siswa yaitu :
a.) Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
b.) Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan.
c.) Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa.
d.) Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.[8]
2.) Ketrampilan memberi penguatan.
Penguatan (reinforcement) merupakan respon terhadap suatu prilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali prilaku tersebut. Penguatan dapat dilakukan secara verbal, dan non-verbal, dengan prinsip kehangatan, keantusiasan, kebermaknaan, dan menghindari penggunaan respon yang negatif. Penguatan secara verbal berupa kata-kata dan kalimat pujian, seperti : bagus, tepat, bapak puas dengan hasil kerja kalian. Sedang secara non-verbal dapat dilakukan dengan : sentuhan, acungan jempol, dan kegiatan yang menyenangkan. Penguatan bertujuan untuk :
a.) Meningkatkan perhatian peserta didik terhadap pembelajaran.
b.) Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar.
c.) Meningkatkan kegiatan belajar dan membina prilaku yang produktif.[9]
3.) Ketrampilan mengadakan variasi.
Mengadakan variasi merupakan ketrampilan yang harus dikuasai guru dalam pembelajaran, untuk mengatasi kebosanan peserta didik, agar selalu antusias, tekun, dan penuh partisipasi. Variasi dalam pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan.[10]
4.) Ketrampilan menjelaskan.
Yang dimaksud dengan ketrampilan menjelaskan dalam pengajaran ialah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui. Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan.[11]
5.) Ketrampilan membuka dan menutup pelajaran
Yang dimaksud dengan set induction ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan prokondisi bagi murid agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar.
Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru pada awal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai, menarik perhatian siswa, memberi acuan, dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajarinya.[12]
6.) Ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur dan melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka untuk mengambil kesimpulan dan memecahkan masalah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membimbing diskusi adalah sebagai berikut :
a.) Memusatkan perhatian peserta didik pada tujuan dan topik diskusi
b.) Memperluas masalah atau urunan pendapat.
c.) Menganalisis pandangan peserta didik.
d.) Meningkatkan partisipasi peserta didik.
e.) Menyebarkan kesempatan berparsitipasi.
f.) Menutup diskusi.
Melalui diskusi kelompok kecil dalam pembelajaran, memungkinkan peserta didik :
a.) Berbagi informasi dan pengalaman dalam pemecahan suatu masalah.
b.) Meningkatkan pemahaman terhadap masalah yang penting dalam pembelajaran.
c.) Meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
d.) Mengembangkan kemampuan berfikir dan komunikasi.
e.) Membina kerjasama yang sehat dalam kelompok yang kohesif dan bertanggung jawab.[13]
Jadi, dalam kegiatan belajar mengajar guru juga harus memahami dan mampu menggunakan ketrampilan membimbing diskui kelompok kecil. Karena diskusi dalam kegioatan belajar mengajar mempunyai pengaruh yang sangat baik. Dengan diskusi para siswa dapat saling beragi informasi dan pengalaman dalam pemecahan suatu masalah, meningkatkan pemahaman tentang masalah yang penting dalam pembelajaran, meningkatkan kemampuan berfikir dan komunikasi.
7.) Ketrampilan Mengelola Kelas.
Pengelolaan kelas adalah ketrampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Yang termasuk ke dalam hal ini misalnya penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru dapat mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik atara guru dan siswa dan siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif.[14]
Jadi pemgelolaan keas yang efektif merupakan salah satu factor yang penting dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru yang pandai mengelola kelas dengan baik, maka suasana pembelajaran di kelas akan terasa menyenangkan. Siswa akan selalu merasa diperhatikan oleh guru, jadi siswa akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru.
Sebaliknya guru yang kurang bisa mengelola kelas dengan baik, maka suasana pembelajaran di kelas akan terasa membosankan, dan akhirnya siswa tidak konsentrasi serta tidak enjoy dalam belajar.
8.) Ketrampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan.
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap peserta didik, dan menjalin hubungan yang lebih akrab antara guru dengan peserta didik maupun antara peserta didik dengan peserta didik.
Ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan dapat dilakukan dengan :
a.) Mengembangkan ketrampilan dalam pengorganisasian, dengan memberikan motivasi dan membuat variasi dalam pemberian tugas.
b.) Membimbing dan memudahkan belajar, yang mencakup penguatan, proses awal, supervisi dan interaksi pembelajaran.
c.) Perencanaan penggunaan ruangan.
d.) Pemberian tugas yang jelas, menantang dan menarik.
Khusus dalam melakukan pembelajaran perorangan, perlu diperhatikan kemampuan dan kematangan berpikir peserta didik, agar apa yang disampaikan bisa diserap dan diterima oleh peserta didik.[15]
Jadi dalam mengajar guru selain memberikan perhatian pada kelompok juga harus memperhatikan siswa secara perorangan. Mengapa demikian ? Karena setiap siswa itu mempunyai gaya belajar dan daya serap yang berbeda-beda. Dengan adanya perhatian guru terhadap kelompok dan perorangan ini, maka diharapkan agar apa yang disampaikan oleh guru bisa diserap dan diterima oleh peserta didik dengan baik.
d. Menggunakan Media Pengajaran.
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.[16]
Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Ada beberapa alasan mengapa media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa antara lain :
1.) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
2.) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.
3.) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.
4.) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.[17]
e. Menggunakan Metode Pengajaran Yang Bervariasi.
Dari segi bahasa metode berasal dari dua perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Dengan demikian metode dapat berarti cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut. Ada lagi pendapat yang mengatakan bahwa metode sebenarnya berarti jalan untuk mencapai tujuan.[18]
Dalam proses belajar mengajar, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana yang membermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.
Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan berproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan.
Metode pengajaran yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya proses belajar mengajar sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia. Oleh karena itu metode yang ditetapkan oleh seorang guru dapat berdaya guna dan berhasil guna jika mampu dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.[19]
Adapun fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaik mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut. Dalam memfungsionalkan metode, terdapat suatu prinsip yang umum yaitu, prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana yang menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi didikan itu dapat dengan mudah diberikan.[20]
f. Dapat Memberikan Hadiah Kepada Siswa yang Berprestasi.
Pemberian hadiah merupakan positif reinforcement bagi anak. Cara ini merupakan cara mendidik yang bersifat prefentif dan regresif yang menyenangkan dan dapat menjadi motivator belajar bagi anak.
g. Belajar Dengan Melakukan (Learning by doing).
Pada hakekatnya siswa senang apabila belajar sambil bekerja atau melakukan aktivitas. Siswa akan punya harga diri apabila diberi kesempatan untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Untuk itu, siswa perlu diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan nyata yang melibatkann otot dan pikirannya, sehingga anak belajar bagaimana cara belajar, menemukan, mencari dan menyelesaikan permasalahan. Lebih dari 2.400 tahun yang lalu Confucius menyatakan :
Apa yang saya dengar, saya lupa.
Apa yang saya lihat, saya ingat.
Apa yang saya lakukan, saya paham.
Tiga pernyataan sederhana ini membicarakan bobot penting belajar aktif.
Mel Siberman telah memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius tersebut menjadi apa yang ia sebut paham belajar aktif.
Apa yang saya dengar, saya lupa.
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit.
Apa yang saya dengar, lihat, dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham.
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan ketrampilan.
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai.[21]
2. Pengkondisian Lingkungan Belajar.
Pembelajaran yang menyenangkan, membutuhkan persiapan lingkungan yang mendukung siswa merasa penting, aman dan nyaman. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik dan psikis. Pengkondisian ini ditempuh karena belajar akan efektif jika ada keamanan secara fisik dan emosional dalam diri anak. Lingkungan anak berarti segala situasi fisik yang diciptakan di sekitar ruangan belajar yang meliputi penataan ruang kelas, asesoris kelas, teman, musik dan sebagainya. Pengkondosian lingkungan fisik ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga melahirkan suasana lain bagi anak untuk belajar. Hal ini untuk memfasilitasi kebutuhan otak reptil manusia yaitu komponen kecerdasan terendah dari spesies manusia yang bertanggung jawab atas fungsi motorik – sensorik – pengetahuan tentang realitas fisik yang berasal dari panca indra.[22]
Tony Stockwell, ahli pendidikan kelahiran Inggris, mengatakan bahwa supaya belajar dapat berlangsung secara cepat dan efektif dilakukan dengan cara melihat, mendengar, dan merasakan.[23]
Menurut Vernon A Magnesen, orang belajar 10 % dari apa yang dibaca, 20 % dari yang di dengar. 30 % dari yang dilihat, 50 % dari yang dilihat dan didengar, 70 % dari yang dikatakan, dan 90 % dari yang dikatakan dan dilakukan.[24] Disamping itu, menurut penelitian Welberg keadaan lingkungan sosial/suasana belajar adalah penentu psikologis seseorang yang berpengaruh terhadap hasil belajar.[25]
Selanjutnya, lingkungan psikis berarti segala situasi psikologis yang diciptakan di sekitar ruang kelas termasuk emosi, motivasi, harga diri dan komunikasi yang interaktif dan harmonis antara siswa dan guru. Pengkondisian psikis penting karena kondisi belajar paling baik dan efektif adalah jika manusia berada dalam kondisi penuh kasih sayang, kehangatan, dorongan dan dukungan. Thomas Amstrong mengatakan bahwa perubahan arah pendidikan yang paling penting adalah dimulai dari penghargaan diri.[26]
Pengkondisian secara psikis memfasilitasi kebutuhan otak lembik, yaitu bagian otak manusia yang menyimpan perasaan, pengalaman, dan intelektual. Jika kebutuhan otak ini secara emosional dan intelektual terpenuhi, maka dapat memicu neokorteks, yaitu bagian otak tempat bersemayamnya kecerdasan manusia dan sasaran pembelajaran akan lancar, karena pusat emosi otak manusia juga berhubungan erat dangan sistem penyimpanan memori jangka panjang. Itulah sebabnya melibatkan siswa secara emosional dalam proses pembelajaran akan memudahkan siswa mengingat kembali apa yang telah mereka pelajari.[27]
Jadi menurut penulis bahwa pengkondisian lingkungan belajar dalam kegiatan belajar mengajar sangatlah penting, dan membawa dampak yang sangat positif. Dalam belajar siswa memerlukan lingkungan fisik dan psikis yang mendukung. Karena kedua lingkungan ini sangat berpengaruh dalam belajar siswa. Seandainya lingkungan tempat siswa belajar saja kurang kondusif, maka bisa menghambat proses pencapaian tujuan pembelajara
.png)
.png)
.png)
.png)
.jpeg)

