Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang terhormat bapak fahrudin sujarwo selaku duta teknologi 2018 sekaligus mentor kami dari kelompok 4 webinar bertajuk AKRAB, yang saya hormati bapak Sigit Purnama, ibu Tri Susilawati dan bapak Waluyo, rekan-rekan saya di webinar serta seluruh peserta webinar akrab aksi rabu berbagi yang berkenan hadir dan berkenan meluangkan waktunya untuk mengikuti belajar bersama praktik baik.
Bapak ibu sekalian, pada sesi 3 kali ini saya Ibnu Rizaki akan bercerita praktik baik tentang inovasi pembelajaran yang sudah saya lakukan. Judul praktik baiknya adalah pentingnya inovasi media pembelajaran interaktif sebagai usaha penguatan numerasi dan literasi pada mata pelajaran ipa.
SITUASI
Saya ceritakan dulu situasi sekolah saya.Lokasi saya di SMP Negeri 5 1 atau bumijawa berada pada ketinggian 1800 mdpl. Pada pegunungan gunung Slamet dan berjarak 47km dari kota slawi. Jauhnya jarak tentunya memiliki banyak hambatan. Tantangan yang dihadapi baik oleh guru maupun oleh siswa. Bisa dilihat juga bahwa titik yang ada di peta hanya ada segedong tersebut adalah SD yang satu atap dengan kami. Dan 2 titik pendakian gunung Slamet. Tidak ada Indomaret atau Alfamart atau kedai Mixue?
Akses internet juga menjadi masalah di sekolah kami. Di sana adalah blankspot. Tidak ada jaringan internet seluler. Yang ada hanya Wifi yang disediakan oleh perorangan dan biasanya para siswa atau warga di sana membeli voucher baik durasi jam ataupun harian. Sedangkan sekolah kami memiliki wifi sendiri, namun dengan kecepatan 5 Mbps untuk seluruh sekolah.
Situasi yang ketiga adalah kearifan lokal. Sebagian besar penduduk di dukuh sawangan atau di kami masih sangat memegang erat prinsip prinsip religius dan adat jawa. Contohnya pada acara pengajian, pada acara pasaran orang tua dan siswa ikut keluar baik ke luar kota maupun ke pesantren. Biasanya siswa tidak berangkat sekolah bisa harian bahkan mingguan. Ada juga yang mengikuti adat jawa seperti rebo wekasan atau rebo pungkasan. Mungkin bapak ibu semua pernah dengar tradisi itu. Menyarankan untuk tidak keluar rumah karena dianggap hari sial, termasuk tidak berangkat sekolah sehingga tidak jarang sekolah kami tidak pernah penuh siswanya. Kadang si A berangkat, besok si B yang enggak berangkat besok C enggak berangkat sehingga tingkat pertemuan guru dengan siswa itu tidak maksimal.
TANTANGAN
Dengan ketiga situasi tersebut, tantangan tentu saja muncul.Hasil rapor pendidikan 2022 menunjukkan bahwa sekolah kami memiliki. Nilai numerasi 12,86%. untuk numerasi literasi 25% masih jauh bahkan dari rata rata Kabupaten tegal, yaitu.56%. Minimnya akses baik akses lokasi maupun akses internet tentu saja membatasi sumber belajar yang tersedia baik sekolah maupun siswa sehingga siswa tidak memiliki buku pendamping lain selain buku paket dan multimedia. Buku paket pun tidak bisa kami bagikan karena jumlahnya terbatas.
Dengan kurangnya sumber belajar jarangnya siswa berangkat, tentu sebagai guru kita harus membuat pembelajaran yang interaktif membuat kesan yang menarik, membuat pembelajaran bermakna supaya siswa betah dan mau melanjutkan untuk belajar di sekolah.
AKSI
Ketiga tantangan tersebut saya coba identifikasi dan saya membuat inovasi pembelajaran Model problem based learning pada materi sistem ekskresi menggunakan media pembelajaran interaktif, yang saya beri nama X-sinuli (Sistem ekskresi dengan penguatan numerasi dan literasi)
Apa itu PBL? atau problem based learning adalah pembelajaran yang berbasis pada siswa dan memfokuskan pada pemecahan masalah. Ada 5 sintaks dalam model yang pertama orientasi pada masalah, Kedua mengorganisasikan peserta didik untuk belajar. Ketiga membimbing penyelidikan individu maupun kelompok. selanjutnya mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Dan terakhir menganalisis serta mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Selain model, saya juga menyiapkan aplikasi berbasis Android yang tadi saya sebut me X-sinuli. Media pembelajaran ini saya buat menggunakan articulate storyline. Kemudian saya kombinasikan dengan Google classroom dan Quizizz. Kelebihan yang saya tampilkan di aplikasi ini adalah multi platform, bisa dipakai di komputer maupun bisa dipakai di android, bekerja daring dan luring, saya menyediakan 2 mode mode daring dengan ukuran lebih kecil. Stream kemudian mode luring saya sediakan video dan evaluasi secara offline yang bisa diakses.
Berikut ini adalah implementasi yang saya laksanakan orientasi pada masalah saya memberikan apersepsi pengetahuan dasar tentang ekspresi. Kemudian saya membuat.Pertanyaan pertanyaan pemantik seputar permasalahan sehari hari yang berhubungan dengan sistem ekskresi. Kemudian saya mengorganisasi peserta didik untuk belajar. Saya membagikan d kemudian saya memberikan instruksi. Bagaimana cara penyelidikannya? Dan tentu saja siswa sudah membawa handphone dan untuk siswa yang tidak membawa handphone, saya sediakan chromebook agar bisa mengakses menggunakan X-sinuli.
Membimbing penyelidikan kelompok, saya mengarahkan siswa pada topik masalah memberikan umpan balik positif serta membantu siswa yang kesulitan, baik kesulitan untuk mengkomunikasikan ataupun kesulitan dalam menggunakan aplikasi tersebut. Yang keempat adalah mengembangkan dan menyajikan hasil karya siswa secara bergantian, mempresentasikan hasil penyelidikannya. Kemudian kelompok lain ikut menanggapi, ikut mengevaluasi dan memberi tambahan sanggahan dari hasil presentasi temannya yang lain. Menganalisis dan mengevaluasi, Saya sebagai guru memberi penguatan memberi.Umpan balik positif dan memberi evaluasi baik terhadap presentasi maupun terhadap hasil penyelidikan siswa. Di sesi berakhir saya mengadakan kuis interaktif kuis ini adalah kuis literasi numerasi yang sudah tersedia di aplikasi.Yang saya kompetisikan di kelas.Jadi siswa secara berebut cepat cepat untuk mengerjakan maju ke depan.Ada kuis drag and drop. Ada juga kuis tentang nitrasi sederhana maupun numerasi sederhana.
Untuk asesmen formatif saya menggunakan kusis papermoon.Karena ya tadi.Akses internet terbatas meskipun siswa membawa handphone. Tidak ada internet yang bisa dipakai.Internet sekolah pun terbatas, jadi saya menggunakan papermode. Sebelum menutup pembelajaran saya membuat tugas pada siswa menyajikan.Organ ekskresi beserta bagian dan fungsinya.Kebetulan saya jadi guru juga di sekolah. Saya mengarahkan siswa untuk mencoba membuat. Model AR menggunakan assembler, kemudian ada juga yang membuat menggunakan canva.
REFLEKSI
Model PBL saya pilih karena model ini menuntut siswa untuk aktif dan berpikir kritis. Secara tidak langsung berpikir kritis juga meningkatkan kemampuan literasi. Dia literasi menangkap informasi dan literasi untuk menyampaikan informasi. Yang kedua ketuntasan. Hasil dari tes formatif menunjukkan 80% siswa tuntas kompetensi.Sedangkan sisanya.Yang belum tuntas, saya beri bimbingan khusus. Hasil dari kemampuan literasi dan numerasi.Di sini saya tidak menunjukkan nilai kuantitatif literasi atau numerasi. Karena menurut saya.Peningkatan literasi numerasi itu tidak bisa diukur dalam satu kali percobaan.Ya saya tekankan di sini adalah.Pembiasaan pembiasaan siswa menemukan masalah pembiasaan siswa.Mengerjakan soal numerasi dan literasi dan pembiasaan siswa dengan.Kompleksitas soal. Angka 12% mungkin masih jauh.Tapi dengan.Sistem pembelajaran yang.Numerasi dan literasi kemudian dibantu dengan program sekolah Jumat literasi, Jumat. Inovasi kemudian satu Minggu satu buku diharapkan.Kemampuan inilah yang akan meningkat.
Selain itu, aplikasi X-sinuli ini juga menjadi inovasi. Saya memecahkan masalah ketika siswa berhalangan hadir.Dengan adanya aplikasi yang bisa di bawa ke rumah oleh siswa siswa bisa belajar mandiri. Siswa juga bisa berlatih.Sehingga siswa bisa mengikuti pembelajaran dan menyelesaikan kompetensi seperti pada umumnya.
Demikian cerita praktik baik yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat
Terimakasih
Wassalamualaikum wr wb,
berikut adalah dokumentasi praktik baik yang saya lakukan secara daring





0 komentar:
Posting Komentar